Selasa, 09 Februari 2016

MEMAHAMI ZONA LAUT MENURUT KEDALAMANNYA

 GEOPEDIA- Secara vertikal laut memiliki berbagai zona dengan berbagai karakteristiknya. Mulai dari yang dapat kita lihat saat kita mengunjungi pantai hingga yang memiliki kedalaman lebih dari 2000 m di bawah permukaan laut.

Dilihat secara vertikal laut memiliki 4 zona yaitu, Litoral, neritik, batial dan abisal. Yuk kita pelajari karakteristik masing-masing zona tersebut.
Gambar penampang zona laut (sumber:www.alamikan.com)


1. Zona Litoral
Merupakan zona yang sering kita temukan saat kita berkunjung ke pantai. Zona ini sering disebut zona pasang surut. Artinya saat laut pasang maka zona ini akan tergenang air sedangkan saat air laut surut akan menjadi pantai.
Gambar zona litoral (sumber:http://www.windows2universe.org)
2. Zona Neritik
Merupakan zona yang memiliki kedalaman kurang dari 200 m. Ciri zona ini adalah sinar matahari masih mampu menembus zona ini sehingga masih banyak di jumpai hewan dan tumbuhan laut. Zona ini juga merupakan zona berkumpulnya ikan.
Gambar zona neritik (sumber:biologikelasxx.blogspot.com)
3.Zona Batial
Merupakan zona yang memiliki kedalaman 200-1800 m. Karakteristik zona ini matahari sudah tidak mampu menembus sehingga sedikit tumbuhan pada zona ini. Untuk jenis hewan laut masih banyak ditemukan pada zona ini.

Gambar zona batial (sumber: http://encyclopedia.caledonianseashells.com)

4.Zona Abisal
Zona abisal memiliki kedalaman diatas 1800 m. Karakteristik zona ini memiliki suhu yang sangat rendah. Hanya hewan dan tumbuhan yang tahan terhadap suhu rendah yang dapat hidup pada zona ini.

Gambar zona abisal (sumber: deepseabiomebio11.blogspot.com)


Rabu, 03 Februari 2016

MEMAHAMI PENDEKATAN GEOGRAFI

GEOPEDIA-Dalam memahami pendekatan geografi kadang kita mengalami kesulitan karena materi ini cukup membingungkan dan multitafsir. Dalam mempelajari geografi secara umum menggunakan tiga pendekatan yaitu: pendekatan keruangan ekologi, pendekatan keruangan dan pendekatan komplek wilayah.

Dalam memahami tiga pendekatan ini terkadang mengalami kerancuan. Misal dalam menganalisis fenomena banjir, sebaiknya menggunakan pendekatan apa yang tepat. Agar tidak bingung dalam memahami materi ini, berikut saya uraikan bagaimana cara memahami fenomena dengan pendekatan geografi.

Pendekatan keruangan
Melihat suatu gejala secara keruangan atau spasial. Titik penekanan kajian ini adalah persebaran fenomena. Untuk merumuskan ini bisanya dapat dengan menggunakan perntanyaan "Dimana". 

Contoh: Banjir yang terjadi di Jakarta tahun 2013 lalu menenggelamkan beberapa daerah diantaranya Pondok Labu, Muara Angke, Rawa Buaya dan Pondok pinang.

Dari contoh di atas kita dapat menganalisisnya dengan pertanyaan "Dimana saja persebaran banjir Jakarta tahun 2013?. Jawabnya di Pondok Labu, Muara Angke, Rawa Buaya dan Pondok pinang.

Peta persebaran banjir Jakarta tahun 2013




Pendekatan Ekologi
Dalam memahami pendekatan ekologi penekananny adalah ada fenomena yang terjadi akibat aktivitas manusia. Ketika fenomena yang terjadi akibat dampak aktivitas manusia pastilah pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ekologi.

Contoh: Bajir terjadi karena pembuangan sampah kesungai, berkurangnya resapan air dan diperparah oleh kerusakan di hulu sungai.

Dari contoh diatas banjir yang terjadi akibat aktivitas manusia yang berupa pembungan sampah kesunagi, berkurangnya resapan air karena alih fungsi lahan dan kerusakan dihulu sungai akibat aktivitas manusia.

Gambar membuang sampah kesungai menyebabkan pendangkalan sungai


Pendekatan kompleks wilayah
Dalam memahami pendekatan kompleks wilayah ini, menggabungkan antara pendekatan keruangan dan ekologi. Penekanan dalam pendekatan komples wilayah adalah menghubungkan fenomena yang terjadi dengan wilayah lain.

Contoh: Banjir yang terjadi di Jakarta karena tingginya alih fungsi lahan di daerah Bogor dan tingginya erosi di daerah Bogor.

Mengapa contoh di atas termasuk pendekatan komples wilayah karena Antara Bogor dan Jakarta masih dalam satu sistem Aliran sungai yaitu DAS Ciliwung, sehingga ketika resapan rendah dan sedimentasi tinggi akan menyebabkan naiknya folume air di sepanjang DAS Ciliwung sehingga Jakarta yang menjadi korbannya.
Peta Segmentasi DAS Ciliwung
Jadi untuk memahami fenomena dengan menggunakan pendekatan apa yang tepat, tergantung pada konteks fenomenyanya. Jika berupa persebaran maka menggunakan pendekatan keruangan, jika merupakan akibat aktivitas manusia dengan menggunakan pendekatan ekologi dan jika ada hubungan dengan daerah lain maka menggunakan pendekatan kommplek wilayah.